Rabu, 21 Agustus 2013

Pemikiran DR. M. Umer Chapra dalam Sistem Moneter Islam

DR. M. Umer Chapra adalah seorang ekonom kenamaan dan seorang sarjana Islam yang memiliki komitmen. Beberapa pemikirannya telah menjadi pijakan dalam praktek ekonomi Islam dan dalam dunia akademisi.

Maka pada pembahasan ini Dr. Umer Chapra telah membahas manajemen moneter secara komprehensif beberapa pembahasan mencakup antara lain: Pertama, Perspektif sejarah penetapan sistem moneter dari awal masa Nabi Muhammad hingga memasuki abad terkini abad ke-19 hingga 20. Kedua, Ruang lingkup manajemen moneter dari sudut pandang konvensional dan syariah, dimana konvensional yang disebut manajemen moneter ekonomi mainstream, yang meliputi; pertumbuhan optimum, distribusi dan kestabilan ekonomi. Ketiga, ruang lingkup manajemen moneter dalam Islam yang meliputi; permintaan dan penawaran uang, serta target pertumbuhan. kemudian pembahasan yang keempat pada instrumen kebijakan moneter, selanjutnya kelima, perealisasi tujuan sosio-ekonomi, dan keenam yaitu kesimpulan.

Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press dan Tazkia Institute merupakan buku yang sangat bagus untuk menelaah dan mempelajari pemikiran-pemikiran beliau terkait system keuangan atau system moneter Islami yang komprehensif.

Saya akan membahas sedikit dari beberapa pemikiran beliau yang akan menjadi bahasan keuangan dan moneter yang menurut saya paling komprehensif dan lengkap.

Fungsi dan tujuan kebijakan moneter Islam
1.      Kesejahteraan ekonomi dengan kesempatan kerja penuh dan laju pertumbuhan optimal
Menurut Umer Chapra bahwa tujuan dan fungsi yang paling penting dalam kebijakan moneter adalah kesejahteraan ekonomi dengan kesempatan kerja penuh dan laju pertumbuhan optimal. Para fukaha sepakat bahwa kesejahteraan manusia dan penghapusan kesulitan adalah tujuan utama syariah.
Salah satu problem terbesar dalam dunia ekonomi adalah selisih yang terlalu besar antara tabungan dan investasi. Efek positif dari tabungan dalam pertumbuhan adalah pembangunan yang akan dicapai dengan tabungan akan meningkatkan kapital yang selanjutnya akan membawa naiknya output dan employment. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Saving dalam suatu negara telah menjadi faktor utama yang bertanggungjawab terhadap tingkat suku bunga yang tinggi dan rendahnya tingkat investasi, pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

2.      Keadilan Sosioekonomi dan Distribusi Pendapatan dan Kekayaan yang merata.
Menurut beliau, Keadilan Sosioekonomi dan Distribusi Pendapatan dan Kekayaan yang merata keduanya secara esensial merupakan dua profil satu wajah. Keduanya tidak dapat direalisasikan tanpa adanya distribusi pendapatan dan kekayaan yang komitmennya berdasarkan komitmen spiritual terhadap persaudaraan manusia. Bukan pada tekanan kelompok.
Perilaku dari institusi keuangan berdasarkan bunga cenderung untuk menekan daripada mengurangi ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan.

3.      Stabilitas Nilai Uang
Stabilisasi nilai uang dalam pemikiran beliau adalah suatu kewajiban Negara. Wajib bagi Negara islam untuk berlindung kepada kebijakan-kebijakan pendapatan, fiscal, atau moneter yang sehat dan menggunakan control-kontrol langsung bila diperlukan termasuk control harga upah, untuk meminimalkan kemerosotan nilai uang ril, sehingga melindungi suatu kelompok masyarakat dari pengembalian pinjaman yang kurang baik.

Milton Friedman (Newsweek, 1982), mengemukakan belum pernah terjadi sesuatu yang aneh pada ekonomi Amerika daripada perilaku yang aneh pada suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga yang mudah menggelembung menjadikan ketidakpastian yang besar terhadap pasar keuangan dan membuatnya sulit untuk mengambil keputusan investasi jangka panjang (long-term investment) secara pasti. Ketidakpastian ini akan membawa para peminjam dan para pemberi pinjaman lebih tertarik pada investasi jangka pendek yang kemudian memberikan tekanan yang besar dalam komoditas, stock, dan foreign exchange market.

4.      Mobilisasi Tabungan
Memobilisasi tabungan diperlukan agar tidak terjadi penimbunan simpanan, karena hal ini di kutuk dalam konsep ekonomi Islam. Menurut beliau, karena tidak semua penabung mempergunakan tabungannya untuk tujuan produktif, maka perlu dibangun atau menganjurkan adanya lembaga-lembaga keuangan non riba yang terorganisasi untuk memobilisasi simpanan yang menganggur dan menyalurkannya secara efektif ke dalam usaha-usaha produktif.

5.      Memberikan Pelayanan yang Lain
Pengembangan pasar uang primer bertujuan dalam penyediaan sumber-sumber daya keuangan bagi mereka yang mempergunakannya secara produktif. Sedangkan pasar keuangan sekunder diperlukan untuk membantu para penabung mencairkan investasi mereka manakala mereka perlu melakukan itu. Dalam perekonomian Islam, pasar sekunder yang efesien berbasis pada penyertaan modal untuk mengurangi penimbunan.
Kemampuan para peminjam untuk menyediakan collateral (jaminan) untuk menjamin pembayaran kembali dan cash flow yang cukup untuk mengcover utang merupakan syarat utama dalam ekstensi kredit berdasarkan bunga. Oleh karena itu, sumber-sumber keuangan cenderung kepada orang-orang kaya yang mereka memenuhi kriteria ini dan juga pemerintah yang diasumsikan tidak akan gagal. Bagaimanapun, orang kaya yang meminjam tidak hanya untuk productive investment tetapi juga conspicuous consumption dan speculation, sedangkan pemerintah melakukan pinjaman tidak hanya untuk pembangunan dan kepentingan publik, tetapi juga untuk pembangunan pertahanan yang lebih (excessive defense build up) dan sektor usaha publik yang tidak menguntungkan (unprofitable public sektor enterprise). Hal ini akan membawa kepada ekspansi yang cepat dalam permintaan uang bagi unproductive spending dan wasteful spending yang kemudian memperburuk keadaan makroekonomi dan ketidakseimbangan eksternal, pemerasan kepada sumber-sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dan pengembangan.



Strategi.
1.      Strategi dalam mencapai tujuan moneter dalam Islam adalah terintegrasinya semua aspek kehidupan keduniaan dengan aspek spiritual untuk menghasilkan peningkatan moral masyarakat. Sehingga jelas sekali bahwa, untuk itu, menurut pemikiran beliau, tidak mungkin mekanisme pasar, atau mengandalkan kekuatan-kekuatan pasar seperti dalam kapitalis, atau menggunakan kekuatan paksa Negara sepertti marxis.
2.      Individu selaku khalifah, diberi amanah untuk dapat berperan yang diberi tanggung jawab untuk mengelola bumi. Negara harus melakukan intervensi secara efektif untuk membimbing dan meregulasi serta mencegah penyimpaangan dalam realisasi sasaran.
3.      System keuangan dan perbankan bukan sebuah system yang terpisah dari suatu perekonomian, reorganisasi harus menjadi bagian penting dari keseluruhan perubahan, termasuk transformasi moral dan Negara perlu ikut intervensi.
4.      Sebagai elemen strategi yang penting, reformasi perbankan dan uang, contohnya pelarangan riba secara mutlak.

Wallahu a’lam bish showab.

Referensi
Chapra, Umer, “ Sistem Moneter Islam”,  Terbitan Gema Insani Press dan Tazkia Institute,
Jakarta 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar